![]() |
| Kisruh di tubuh NU belum mendapat titik temu hingga jadi sorotan media di Israel. (Foto: viva.co.id) |
JAKARTA - Kisruh internal yang melanda Nahdlatul Ulama (NU) terus bergulir. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Yahya Cholil Staquf, menyampaikan bahwa para ulama akan segera berkumpul untuk membahas dinamika organisasi Islam terbesar di Indonesia tu.
Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur, ditunjuk meenjadi tempat untuk membahas persoalan yang tengah mengemuka. Meski demikian, Yahya mengungkapkan bahwa belum ada penetapan waktu pasti terkait pelaksanaan pertemuan tersebut. Ia menegaskan bahwa koordinasi masih terus dilakukan untuk menentukan jadwal yang tepat.
"Insyaallah nanti akan digelar pertemuan yang lebih luas dengan menghadirkan para kiai sepuh (yang lebih senior) dan unsur-unsur kepemimpinan dalam lingkungan NU, di mana yang jadi tuan rumah adalah Pesantren Lirboyo di Kediri," ujar Yahya saat memberikan keterangan di Kantor Pusat PBNU, Jakarta Pusat, pada Minggu (23/11) malam, dikutip dari cnnindonesia.com.
"Tetapi kesepakatan di antara para kiai tadi sudah dicapai, segera akan diselenggarakan pertemuan itu. Mudah-mudahan bisa menjadi pembuka jalan keluar dari masalah yang ada sekarang," lanjutnya.
Yahya juga menekankan bahwa NU sebagai organisasi memiliki sistem konstitusi yang tertata dan harus dijadikan acuan dalam menyikapi berbagai dinamika yang terjadi. Ia mengingatkan bahwa setiap pernyataan publik harus sesuai dengan aturan organisasi.
"Jadi pernyataan-pernyataan atau artikulasi-artikulasi, baik lisan maupun tertulis dari siapapun, itu semuanya harus diukur dengan aturan-aturan dan regulasi yang ada dalam sistem konstitusi organisasi," tegasnya.
Sementara itu, publik tengah ramai memperbincangkan beredarnya risalah rapat harian Syuriah PBNU di media sosial. Dalam dokumen tersebut, disebutkan bahwa Rais Aam dan Wakil Rais Aam PBNU meminta Yahya Cholil Staquf untuk mundur dari jabatannya sebagai Ketua Umum PBNU.
Rapat yang menghasilkan risalah tersebut berlangsung di Jakarta pada Kamis (20/11), dihadiri oleh 37 dari total 53 pengurus harian Syuriah PBNU. Risalah itu ditandatangani oleh KH Miftachul Akhyar selaku Rais Aam PBNU sekaligus pimpinan rapat.
Menanggapi hal itu, Yahya menyatakan bahwa dirinya belum menerima pemberitahuan resmi dalam bentuk apa pun terkait isu yang berkembang. Di sisi lain, Sekretaris Jenderal PBNU, Saifullah Yusuf, mengimbau seluruh jajaran NU dari tingkat pusat hingga ranting agar tetap tenang dan menjaga stabilitas organisasi di tengah situasi yang dinamis ini. (nra)




