![]() |
| Tersapunya sejumlah daratan oleh banjir merupakan dampak nyata pemanasan global melalui bencana alam. (Foto: kompas.com) |
JAKARTA — Sejumlah media internasional menyoroti bencana banjir bandang yang melanda Pulau Sumatera. Mereka mengungkap betapa frustasinya korban bencana karena lambannya upaya penyelamatan oleh pemerintah. Di samping itu media asing menyoroti dampak pemanasan global yang sudah terjadi di Sumatera.
Laporan dari berbagai negara, mulai dari Prancis hingga Amerika Serikat, menggambarkan situasi darurat yang dihadapi para penyintas di wilayah terdampak.
Dikutip dari cnbcindonesia, laman berita Prancis, AFP, melaporkan bahwa para pejabat Indonesia tengah berupaya menjangkau korban banjir di daerah-daerah terpencil yang terisolasi. Namun, banyak penyintas mengeluhkan keterlambatan dalam proses evakuasi dan distribusi bantuan.
"Di Indonesia, para penyintas mengungkapkan rasa frustrasi yang semakin besar tentang lambatnya upaya penyelamatan dan pengiriman bantuan, karena kelompok-kelompok kemanusiaan memperingatkan bahwa skala tantangan ini hampir belum pernah terjadi sebelumnya, bahkan di negara yang tidak pernah mengalami kekurangan bencana alam," tulis laman itu dalam artikel berjudul Frustration in Indonesia as flood survivors await aid, dikutip Kamis (4/12/2025).
AFP juga mencatat bahwa jumlah korban jiwa akibat bencana ini telah mencapai 770 orang, berdasarkan data terbaru dari Badan Penanggulangan Bencana (BPBD), yang merevisi angka sebelumnya sebanyak 812 orang. Selain itu, 463 orang masih dinyatakan hilang. Informasi dari lapangan masih terbatas karena banyak wilayah yang terputus akibat kerusakan infrastruktur serta gangguan listrik dan komunikasi.
Sorotan serupa datang dari media Jerman, DW, yang menampilkan laporan video mengenai kesulitan akses bantuan ke wilayah terdampak.
"Para penyintas banjir dahsyat di Pulau Sumatra, Indonesia, kesulitan mendapatkan bantuan karena banyak jalan hancur atau masih terblokir air dan puing-puing," tulis DW dalam laporan berjudul Indonesia flood crisis: Delayed disaster status draws anger.
Media tersebut juga menggambarkan kondisi darurat yang diperparah oleh kelangkaan bahan pokok, antrean panjang di SPBU, serta laporan penjarahan. DW menambahkan bahwa para ilmuwan kembali mengingatkan bahwa peningkatan suhu global turut memicu intensitas curah hujan ekstrem.
"Para ahli iklim telah memperingatkan sekali lagi bahwa pemanasan suhu memicu curah hujan yang lebih tinggi," tulisnya.
Sementara itu, The New York Times dari Amerika Serikat menyoroti dampak visual dari bencana, termasuk tumpukan kayu gelondongan yang terbawa banjir ke permukiman warga. Media tersebut juga mengangkat topik ini di media sosial mereka.
"Siklon Senyar menghantam wilayah barat laut Indonesia, sebelum bergerak ke Malaysia dan Thailand, mengakibatkan hujan lebat selama berhari-hari yang memicu banjir bandang dan tanah longsor yang telah menewaskan sedikitnya 800 orang. Sebagian besar korban jiwa berada di Indonesia, di mana ratusan orang masih hilang. Ratusan ribu lainnya telah mengungsi," tulisnya.
"Akibat badai tersebut, tak terhitung banyaknya kayu gelondongan dan puing-puing lainnya jatuh ke permukiman di Provinsi Sumatera Utara," lanjut laporan itu.
"Ke mana pun Anda memandang - kiri dan kanan di sepanjang jalan - terdapat tumpukan kayu," tulisnya mengutip seorang relawan penyelamat. (nra)




