-->

BMKG Pantau Perkembangan 2 Siklon Tropis, Musim Hujan 2026/2027 Diperediksi Lebih Singkat

foto dokumen Nasa, diambil pada 2014

JAKARTA – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memantau perkembangan dua siklon tropis, yakni Siklon Tropis IN-FA di Samudra Pasifik dan Siklon Tropis MURASU di Teluk Benggala. Pemantauan tersebut berlangsung di tengah kondisi El Niño yang masih berada pada intensitas sangat kuat dan berpotensi memengaruhi pola curah hujan di Indonesia hingga awal 2027.

Berdasarkan informasi pada laman resmi BMKG yang diperbarui hingga Selasa (3/11/2026), Siklon Tropis IN-FA memiliki tekanan udara minimum 975 hPa dengan kecepatan angin maksimum mencapai 60 knot atau sekitar 111 kilometer per jam. Sistem tersebut berada pada kategori dua.

BMKG menjelaskan, IN-FA berkembang dari Bibit Siklon Tropis 97W di Samudra Pasifik, sebelah timur Laut Papua Nugini. Lokasinya berada di luar wilayah tanggung jawab resmi Tropical Cyclone Warning Centre (TCWC) Jakarta, tetapi tetap masuk dalam pemantauan.

Sementara itu, Siklon Tropis MURASU berkembang dari Bibit Siklon Tropis 91B di kawasan Teluk Benggala. Bibit siklon tersebut mencapai intensitas siklon tropis pada 1 November 2026 pukul 13.00 WIB.

Dalam tabel wilayah terdampak yang ditampilkan BMKG, hingga pembaruan tersebut belum tercantum dampak langsung kedua siklon terhadap wilayah Indonesia, baik berupa cuaca ekstrem, gelombang tinggi, maupun angin kencang.

BMKG melalui TCWC Jakarta melakukan pemantauan siklon tropis selama 24 jam dengan memanfaatkan data satelit, radar, serta stasiun pengamatan. Pemantauan mencakup lokasi pertumbuhan, pergerakan, dan perubahan kekuatan sistem.

El Niño Sangat Kuat, Suhu Nino 3.4 Meningkat

Di sisi lain, analisis terbaru BMKG mengenai dinamika atmosfer Dasarian III Oktober 2026 yang diterbitkan pada 3 November 2026 menunjukkan fenomena El Niño masih berada pada intensitas sangat kuat.

Dalam hasil pemantauan tersebut, anomali suhu muka laut di wilayah Nino 3.4 secara dasarian tercatat mencapai +3,57. Sementara itu, indeks ENSO tiga bulanan periode Agustus-September-Oktober (ASO) mencapai +3,09.

BMKG juga mencatat indeks Indian Ocean Dipole (IOD) dasarian sebesar +0,659, sedangkan indeks bulanan Oktober berada pada angka +0,696. Kondisi tersebut menunjukkan IOD berada pada fase positif.

Analisis BMKG turut memperlihatkan bahwa tutupan awan di sebagian besar wilayah Indonesia relatif lebih sedikit dibandingkan kondisi klimatologisnya. Pada dasarian berikutnya, sebagian besar wilayah Indonesia juga diprediksi masih mengalami kondisi dengan pertumbuhan awan hujan yang terbatas.

Dampaknya terlihat dalam peringatan dini kekeringan meteorologis yang berlaku pada 1–10 November 2026. BMKG menetapkan status awas di sejumlah kabupaten/kota di Banten, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku, Maluku Utara, dan Papua Selatan.

Khusus Jawa Timur, peringatan tersebut menjadi perhatian karena sejumlah wilayah masih berpotensi mengalami kondisi kering meskipun sebagian daerah mulai memasuki masa peralihan menuju musim hujan.

Musim Hujan 2026/2027 Diprediksi Lebih Pendek

Kondisi El Niño yang sangat kuat juga menjadi salah satu faktor penting dalam prediksi musim hujan 2026/2027.

Dalam dokumen Prediksi Musim Hujan 2026/2027 yang diterbitkan pada 2 Oktober 2026, BMKG memperkirakan sebanyak 529 Zona Musim (ZOM) atau 61,08 persen luas daratan Indonesia mengalami keterlambatan awal musim hujan dibandingkan rata-rata klimatologisnya.

Tidak hanya terlambat, durasi musim hujan juga diprediksi lebih pendek dari normal pada 482 ZOM atau mencakup 51,90 persen luas daratan Indonesia.

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani sebelumnya menjelaskan bahwa kombinasi El Niño dan IOD positif berpotensi memperpanjang periode kekeringan di sejumlah wilayah Indonesia.

“Kombinasi fenomena El Nino dan IOD yang terjadi bersamaan ini memperparah dan memperpanjang periode kekeringan di sebagian besar wilayah Indonesia sehingga musim hujan datang terlambat dan terjadi lebih singkat,” kata Faisal dalam konferensi pers prediksi musim hujan di Jakarta, Selasa (22/9/2026).

BMKG memperkirakan sebagian besar wilayah Indonesia mulai memasuki musim hujan pada November hingga Desember 2026. Sementara puncak musim hujan diprediksi berlangsung secara bertahap pada Desember 2026 hingga Februari 2027.

Masyarakat Diminta Memperhatikan Peringatan Dini

Menghadapi kondisi tersebut, masyarakat diminta memperhatikan perkembangan informasi cuaca dan iklim dari BMKG. Ancaman kekeringan masih perlu diantisipasi, terutama di wilayah yang masuk kategori siaga dan awas.

Pada saat bersamaan, masyarakat juga perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi hujan lebat, banjir, dan tanah longsor ketika musim hujan mulai berlangsung.

BMKG memprediksi curah hujan kategori rendah masih berpeluang terjadi di sebagian wilayah Indonesia pada November 2026. Jawa Timur termasuk wilayah yang perlu memperhatikan perkembangan prediksi tersebut.

Informasi perkembangan siklon tropis, peringatan dini cuaca, serta kondisi iklim dapat dipantau melalui situs resmi BMKG di www.bmkg.go.id dan aplikasi InfoBMKG.(red)

Related Posts

Related Posts

Nasional

Pemerintahan

Kebudayaan

Kolom - Politik

Recent Posts Label

Kolom-Hukum

Recent Posts Label

Kabar Travel