![]() |
| RDF Plant Rorotan terbesr di Indonesia ini terus mendapatkan protes dari warga sekitar. (Foto: antaranews.com) |
JAKARTA - Uji coba tahap kedua fasilitas pengolahan sampah Refuse Derived Fuel (RDF) di Rorotan, Jakarta Utara, kembali memicu keluhan dari warga sekitar. Aktivitas tersebut menimbulkan bau menyengat dan polusi udara yang diduga berdampak pada kesehatan warga, terutama anak-anak.
Sejumlah anak di kawasan Perumahan Jakarta Garden City (JGC), Jakarta Timur—yang berjarak sekitar 800 meter dari lokasi RDF—mengalami gangguan kesehatan usai uji coba dilakukan.
"Setelah beberapa kali uji coba masih menyebarkan bau dan pencemaran udara yang mengakibatkan sejumlah warga, terutama anak-anak terkena penyakit mata dan ISPA," ungkap Ketua RT 18, RW 14, Klaster Shinano JGC, Wahyu Andre, saat diwawancarai Kompas.com, Senin (3/10/2025).
Menurut Wahyu, uji coba RDF berlangsung dari 3 hingga 31 Oktober 2025. Awalnya, bau yang muncul tercium samar. Namun, sejak 29 Oktober hingga akhir bulan, aroma menyengat mulai menyebar ke permukiman warga. Sejak saat itu, laporan mengenai anak-anak yang sakit mulai berdatangan.
Wahyu mencatat sekitar 20 anak mengalami infeksi mata dan ISPA yang diduga kuat berkaitan dengan bau dari RDF Rorotan. Uji coba akhirnya dihentikan pada Sabtu (1/11/2025), namun bau masih tercium hingga keesokan harinya.
"Kemarin masih ada aktivitas cleaning atau pembersihan gudang RDF dan sempat tercium bau, walau cuma sebentar dan sudah tidak sekuat baunya seperti tiga hari berturut-turut kemarin," jelas Wahyu.
Warga pun khawatir bau serupa akan muncul kembali saat RDF beroperasi penuh.
"Bayangkan, proses cleaning aja masih tercium bau, gimana proses pengolahannya," tambahnya.
Menanggapi situasi ini, warga meminta audiensi dengan Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung. Wahyu mengaku telah menghubungi Pramono melalui WhatsApp dan mendapat respons positif. Namun, hingga kini belum ada kepastian jadwal pertemuan.
Jika permintaan audiensi tak kunjung dipenuhi, warga berencana menggelar aksi unjuk rasa kedua pada 10 November 2025. Aksi ini disebut akan lebih besar dari demonstrasi sebelumnya pada 21 Maret 2025, dengan melibatkan warga dari berbagai kawasan terdampak seperti Asya JGC, Metland Ujung Menteng, Kota Harapan Indah, dan beberapa wilayah di Bekasi.
Sementara itu, Angga Bagus, Project Manager RDF Plant Jakarta dari KSO Wika-Jaya Konstruksi, menyatakan bahwa seluruh peralatan pengendali bau seperti empat unit deodorizer dan Flue Gas Treatment Rotary Dryer berfungsi normal. Ia menjelaskan bahwa bau bisa menyebar karena kondisi tertentu.
"Pada kondisi tertentu, seperti pergantian shift pekerja atau pengisian BBM alat berat, pintu hanggar utama pengolahan sampah dalam kondisi dibuka. Hal tersebut diindikasikan mempengaruhi sirkulasi atau tata udara di dalam hanggar dan area sekitarnya," ujar Angga.
Namun, ia menegaskan bahwa saat mesin beroperasi normal, sirkulasi udara akan dikendalikan sepenuhnya oleh sistem deodorizer. (nra)




