![]() |
| Ilustrasi Generasi Sandwich : pola hidup serba terjepit diantara harus menangung keluarga, orang tua dan diri sendiri |
Pernah dengar istilah generasi sandwich? Tenang, ini bukan soal roti isi atau sarapan cepat saji, tapi tentang kondisi hidup sebagian besar anak muda zaman sekarang yang “terjepit” di antara dua tanggungan: orang tua di satu sisi, dan anak atau adik di sisi lainnya.
Istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh Dorothy A. Miller, profesor asal Amerika Serikat, pada tahun 1981. Ia menggambarkan situasi orang dewasa paruh baya yang tertekan karena harus menopang kehidupan dua generasi sekaligus—seperti isi sandwich yang terjepit di antara dua lapisan roti.
Di Indonesia, fenomena ini makin terasa. Budaya gotong royong dan bakti kepada orang tua membuat banyak anak merasa wajib membantu keluarga, meski mereka sendiri belum sepenuhnya mapan.
“Gajiku habis bukan buat gaya hidup, tapi buat bantu orang tua di kampung dan sekolah adik,” ujar Rika (29), karyawan swasta asal Surabaya. “Kadang pengen nabung, tapi malah nombok.”
Menurut data Katadata, hampir 47% pekerja milenial di Indonesia tergolong sandwich generation. Mereka berada di posisi dilematis—antara ingin mandiri secara finansial, tapi juga tak tega membiarkan keluarga kesulitan.
Psikolog keluarga, Arum Wulandari, menjelaskan bahwa dampak fenomena ini bukan cuma soal uang. “Beban emosional justru lebih berat. Banyak anak muda merasa gagal kalau tak bisa bantu keluarga, padahal mereka juga butuh hidup layak dan menyiapkan masa depan sendiri,” katanya.
Kondisi ini bisa memicu stres berkepanjangan, bahkan menimbulkan rasa bersalah atau burnout. “Itu sebabnya, perlu komunikasi terbuka antaranggota keluarga dan perencanaan keuangan yang realistis,” tambah Arum.
Beberapa langkah yang disarankan para ahli antara lain:
Pisahkan kebutuhan pribadi, keluarga, dan dana darurat.
Ajak anggota keluarga lain ikut bertanggung jawab, jangan hanya satu orang.
Tingkatkan literasi finansial sejak dini agar siklus ketergantungan tak terus berulang.
Meski hidup serba tanggung, generasi sandwich sejatinya adalah simbol ketangguhan. Mereka tetap bekerja, menafkahi, dan berjuang di tengah tekanan dua sisi.
Mereka bukan hanya tulang punggung keluarga, tapi juga penopang harapan bahwa generasi selanjutnya tak harus “terjepit” lagi di antara dua tanggungan.
Ditulis redaksi dari berbagai sumber.




